Sejarah Dan Perkembangan K3(Kesehatan dan Keselamatan
Kerja)
Sejarah dan Perkembangan K3 di dunia dimulai dari zaman
pra-sejarah sampai dengan zaman modern. Pada masing-masing zaman berkembang
teknologi yang kelak menjadi ilmu-ilmu K3 adalah sebagai berikut:
Zaman
Pra-sejarah. Pada zaman batu dan goa(Paleolithic dan Neolithic)
manusia yang hidup pada zaman ini telah membuat kapak dan tombak yang mudah
untuk digunakan serta tidak membahayakan bagi mereka saat digunakan. Disain
tombak dan kapak yang mereka buat umumnya mempunyai bentuk yang lebh besar
proporsinya pada mata kapak atau ujung ombak. Hal ini adalah untuk menggunakan
kapak atau tombak tersebut tidak memerlukan tenaga yang besar karena dengan
sedikit ayunan momentum yang dihasilkan cukup besar. Disain yang mengecil pada
pegangan dimaksudkan untuk tidak membahayakan bagi pemakai saat mengayunkan
kapak tersebut.
Zaman Mesir Kuno. Pada masa ini terutama pada masa
berkuasanya Fir’aun banyak sekali dilakukan pekerjaan-pekerjaan raksasa yang
melibatkan banyak orang sebagai tenaga kerja. Pada tahun 1500 BC khususnya pada
masa Raja Ramses II dilakukan pekerjaan pembangunan terusan dari Mediterania ke
Laut Merah. Disamping itu Raja Ramses II juga meminta para pekerja untuk
membangun “temple” Rameuseum. Untuk menjaga agar pekerjaannya lancar Raja
Ramses II menyediakan tabib serta pelayan untuk menjaga kesehatan para
pekerjanya.
Zaman Yunani
Kuno. Pada zaman romawi kuno tokoh yang
paling terkenal adalah Hippocrates. Hippocrates berhasil menemukan adanya
penyakit tetanus pada awak kapal yang ditumpanginya.
Zaman Romawi. Para ahli seperti Lecretius, Martial, dan Vritivius mulai memperkenalkan
adanya gangguan kesehatan yang diakibatkan karena adanya paparan bahan-bahan
toksik dari lingkungan kerja seperti timbal dan sulfur. Pada masa pemerintahan
Jendral Aleksander Yang Agung sudah dilakukan pelayanan kesehatan bagi angkatan
perang.
Abad Pertengahan. Pada abad pertengahan sudah diberlakukan pembayaran terhadap pekerja
yang mengalami kecelakaan sehingga menyebabkan cacat atau meninggal. Masyarakat
pekerja sudah mengenal akan bahaya vapour di lingkungan kerja sehingga
disyaratkan bagi pekerja yang bekerja pada lingkungan yang mengandung vapour
harus menggunakan masker.
Abad Ke-16 Salah satu tokoh yang terkenal pada masa ini adalah Phillipus Aureolus
Theophrastus Bombastus von Hoheinheim atau yang kemudian lebih dikenal dengan
sebutan Paracelsus mulai memperkenalkan penyakit-penyakit akibat kerja terutama
yang dialama oleh pekerja tambang. Pada era ini seorang ahli yang bernama
Agricola dalam bukunya De Re Metallica bahkan sudah mulai melakukan upaya
pengendalian bahaya timbal di pertambangan dengan menerapkan prinsip
ventilasi.
Abad Ke-18. Pada masa ini ada seorang ahli bernama Bernardino Ramazzini (1664 –
1714) dari Universitas Modena di Italia, menulis dalam bukunya yang terkenal :
Discourse on the diseases of workers, (buku klasik ini masih sering dijadikan
referensi oleh para ahli K3 sampai sekarang). Ramazzini melihat bahwa
dokter-dokter pada masa itu jarang yang melihat hubungan antara pekerjaan dan
penyakit, sehingga ada kalimat yang selalu diingat pada saat dia mendiagnosa
seseorang yaitu “ What is Your occupation ?”. Ramazzini melihat bahwa ada dua
faktor besar yang menyebabkan penyakit akibat kerja, yaitu bahaya yang ada
dalam bahan-bahan yang digunakan ketika bekerja dan adanya gerakan-gerakan
janggal yang dilakukan oleh para pekerja ketika bekerja (ergonomic factors).
Era Revolusi Industri (Traditional
Industrialization)
Pada era ini hal-hal yang turut mempengaruhi perkembangan K3 adalah :
1.
Penggantian tenaga hewan dengan mesin-mesin seperti mesin uap yang baru ditemukan
sebagai sumber energy,
2.
Penggunaan mesin-mesin yang menggantikan tenaga manusia
3.
Pengenalan metode-metode baru dalam pengolahan bahan baku (khususnya
bidang industri kimia dan logam).
4.
Pengorganisasian pekerjaan dalam cakupan yang lebih besar berkembangnya
industri yang ditopang oleh penggunaan mesin-mesin baru.
5.
Perkembangan teknologi ini menyebabkan mulai muncul penyakit-penyakit
yang berhubungan dengan pemajanan karbon dari bahan-bahan sisa pembakaran.
Era Industrialisasi (Modern industrialization)
Sejak era revolusi industri di ata samapai dengan pertengahan abad 20
maka penggnaan teknologi semakin berkembang sehingga K3 juga mengikuti
perkembangan ini. Perkembangan pembuatan alat pelindung diri, safety devices.
dan interlock dan alat-alat pengaman lainnya juga turut berkembang.
Era Manajemen dan Manajemen K3. Perkembangan era manajemen modern dimulai sejak tahun
1950-an hingga sekaran. Perkembangan ini dimulai dengan teori Heinrich (1941)
yang meneliti penyebabpenyebab kecelakaan bahwa umumnya (85%) terjadi karena
faktor manusia (unsafe act) dan faktor kondisi kerja yang tidak aman (unsafe condition).
Pada era ini berkembang system automasi pada pekerjaan untuk mengatasi masalah
sulitnya melakukan perbaikan terhadap faktor manusia. Namun system otomasi
menimbulkan masalah-masalah manusiawi yang akhirnya berdampak kepada kelancaran
pekerjaan karena adanya blok-blok pekerjaan dan tidak terintegrasinya
masing-masing unit pekerjaan. Sejalan dengan itu Frank Bird dari International
Loss Control Institute (ILCI) pada tahun 1972 mengemukakan teori Loss Causation
Model yang menyatakan bahwa factor manajemen merupakan latar belakang penyebab
yang menyebabkan terjadinya kecelakaan. Berdasarkan perkembangan tersebut serta
adanya kasus kecelakaan di Bhopal tahun 1984, akhirnya pada akhir abad 20
berkembanglah suatu konsep keterpaduan system manajemen K3 yang berorientasi
pada koordinasi dan efisiensi penggunaan sumber daya. Keterpaduan semua
unit-unit kerja seperti safety, health dan masalah lingkungan dalam suatu
system manajemen juga menuntut adanya kualitas yang terjamin baik dari aspek
input proses dan output. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya standar-standar
internasional seperti ISO 9000, ISO 14000 dan ISO 18000.
Era Mendatang. Perkembangan K3 pada masa yang akan datang tidak hanya
difokuskan pada permasalahan K3 yang ada sebatas di lingkungan industri dan
pekerja. Perkembangan K3 mulai menyentuh aspek-aspek yang sifatnya publik
atau untuk masyarakat luas. Penerapan aspek-aspek K3 mulai menyentuh segala
sektor aktifitas kehidupan dan lebih bertujuan untuk menjaga harkat dan
martabat manusia serta penerapan hak asazi manusia demi terwujudnya kualitas
hidup yang tinggi. Upaya ini tentu saja lebih bayak berorientasi kepada aspek
perilaku manusia yang merupakan perwujudan aspek-aspek K3
No comments:
Post a Comment